Direktoriini berbentuk excel file yang memuat nama-nama raja dari Datuak Sri Maharaja Diraja dan Tuanku Rajo Tianso. Untuk sementara sampai saat ini (240 Nama) baru di lingkungan keluarga Inti yaitu Raja Alam, Raja Adat dan Raja Ibadat serta perangkat seperti Panitahan Sungai Tarab.Sara menggunakan cukup mudah, cukup dengan melakukan sort pada :
2 Ugrasena. Penguasa kerajaan berikutnya, Ugrasena atau Ratu Sri Ugrasena, berada di pusat pemerintahannya di Singhamandawa pada masa pemerintahannya antara 915 dan 942. Beberapa sumber mengatakan bahwa pemerintahan Raja Ugrasena sama dengan pemerintahan MPU dari Dinasti Isyana di Jawa Timur.
Bone, Ragam Budaya , Raja Bone , Sejarah , Silsilah Raja | 1. Mattasi LompoE ManurungngE ri Matajang 1330-1358 (28 Thn) 2. La Ummasa 1358-1424 (66 Thn) 3. La Saliyu Karampelluwa 1424-1496 (72 Thn) 4. Ibenri Gau Arung Majang 1496-1516 (20 Thn) 5. La Tenri Sukki 1516-1543 (27 Thn) 6. La Uliyo Bote'E 1543-1568 (25 Thn) 7.
Untukselanjutnya silahkan lihat silsilah Keturunan Eyang sampai keturunannya di tahun 2003. Keturunan Eyang Agung Zainal Arif. Tokoh Zainal Arif dikenal dengan julukan Eyang Agung, yang konon menurut kisah dari Rd. H. Mangkurat Natapradja bahwa beliau datang dari kawasan Priangan Timur dan setelah beberapa lama berkelana tiba di Kampung Mahmud.
Silsilahketurunan raja lampung. Uhaul 6x12 utility trailer pictures. Villagio cinema ticket price doha. Atinac.ml. Uhaul 6x12 utility trailer pictures. Villagio cinema ticket price doha. Menu Silsilah keturunan raja lampung. 2022-06-03 05:55:50 | 479 Comments. Moroccan oil hair treatment how to use.
SilsilahKeturunan Raja Alam Pagaruyung. October 15, 2009 . Berdasarkan Silsilah Ahli Waris Daulat yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung, Daulat Yang Dipertuan Sultan Tangkal Alam Bagagar Syah yang dikenal juga dengan panggilan Yang Dipertuan Hitam mempunyai empat orang saudara; Puti Reno Sori, Tuan Gadih Tembong, Tuan Bujang Nan Bakundi dan Yang
Dilihatdari masa kedua kerajaan tersebut sangat berjauhan dan tidak ada hubungan sama sekali, berdasarkan penyelusuran penyusun bahwa keturunan dari Medang Kahiyangan merupakan keturunan Raja Salakanagara ke 5 dari Prabu Dharma Satya Jaya Waruna Dewawarman menantu Dewawarman IV, sedangkan menurunkan keturunan Sumedang Larang berasal Manikmaya
42.8 Silsilah Raja-raja Mathura Mandura Keturunan raja-raja Mandura ini disebut pula Yadawa, arti- nya keturunan bangsa Yadu, karena Prabu Yadawa pernah meme- rintah negara Mandura, dan sebagai sumber leluhurnya adalah
KPaJxL. Sejarah Keluarga Kerajaan SaudiUntuk mengetahui sejarah keluarga Kerajaan Arab Saudi, kita perlu melacak akarnya kembali ke peradaban paling awal di Jazirah Arab. Selama berabad-abad, Jazirah Arab telah memainkan peran penting dalam sejarah sebagai pusat perdagangan kuno dan sebagai tempat pusat kelahiran Agama strategis di antara dua pusat besar peradaban pada saat itu, Lembah Sungai Nil dan Mesopotamia, Jazirah Arab adalah persimpangan jalan dunia kuno. Perdagangan sangat penting untuk pembangunan berkelanjutan di kawasan itu; rute karavan memungkinkan kehidupan dalam iklim di Jazirah itu mengembangkan jaringan rute perdagangan yang rumit untuk mengangkut barang-barang pertanian yang sangat dicari di Mesopotamia, Lembah Nil, dan Cekungan Mediterania. Barang-barang ini termasuk almond dari Taif, kurma dari banyak oasis, dan aromatik seperti kemenyan dan mur dari dataran besar melakukan perjalanan dari tempat yang sekarang Oman dan Yaman, di sepanjang rute perdagangan besar yang melintasi Provinsi Asir Arab Saudi dan kemudian melalui Mekah dan Madinah, akhirnya tiba di pusat-pusat kota di utara dan di Jazirah Arab sebagian besar tetap tidak tersentuh oleh kekacauan politik di Mesopotamia, Lembah Nil dan Mediterania timur. Barang dan jasa mereka sangat diminati terlepas dari kekuatan mana yang dominan saat ini – Babel, Mesir, Persia, Yunani atau Roma. Selain itu, hamparan padang pasir yang luas di Jazirah itu membentuk penghalang alami yang melindunginya dari invasi oleh tetangga yang kuat saat Nabi Muhammad dan Peradaban IslamSekitar tahun 610 M, Muhammad, seorang pemuda yang berasal dari pusat komersial kota Mekah menerima wahyu dari Allah melalui perantara Malaikat Jibril dan diangkat menjadi Nabi. Nabi Muhammad kemudian berdakwah kepada kaumnya dan menghadapi berbagai macam halangan dan rintangan hingga akhirnya Nabi Muhammad berhasil menegakkan peradaban baru, Peradaban Islam di Jazirah dari 100 tahun setelah kelahiran Islam, Peradaban Islam terus meluas dari Spanyol hingga ke bagian India dan Cina. Meskipun pusat-pusat kekuasaan politik telah pindah Jazirah Arab, perdagangan tetap berkembang di daerah tersebut dan Kota Mekkah dan Madinah menjadi pusat ibadah umat bahasa Arab sebagai bahasa pembelajaran internasional adalah faktor utama lain dalam pengembangan budaya Jazirah Arab. Dunia Muslim menjadi pusat pembelajaran dan kemajuan ilmiah selama apa yang dikenal sebagai “Zaman Keemasan”. Para cendekiawan Muslim memberikan kontribusi besar dalam banyak bidang, termasuk kedokteran, biologi, filsafat, astronomi, seni, dan sastra. Banyak ide dan metode yang dipelopori oleh para sarjana Muslim menjadi dasar dari ilmu pengetahuan modern saat Islam berkembang pesat hingga abad ke-17, kemudian terpecah-pecah menjadi kerajaan-kerajaan Islam yang lebih kecil. Jazirah Arab secara bertahap kemudian memasuki periode isolasi yang relatif, meskipun Mekah dan Madinah tetap menjadi jantung spiritual dunia Islam dan terus menarik para peziarah dari banyak Negara Saudi PertamaPada awal abad ke-18, seorang Ulama Islam dan reformis bernama Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mulai mengajak masyarakat di daerahnya untuk kembali ke ajaran Islam yang asli. Beliau awalnya mendapat penentangan dari para cendekiawan dan pemimpin agama setempat yang memandang ajarannya sebagai ancaman terhadap basis kekuasaan mereka. Syaikh kemudian mencari perlindungan ke kota Dir’iyyah, yang dikuasai oleh Muhammad bin Muhammad bin Abdul Wahhab dan Muhammad bin Saud kemudian bekerja sama untuk mendedikasikan diri mereka untuk mengembalikan ajaran Islam yang murni kepada masyarakatnya. Dalam semangat itu, Muhammad bin Saud mendirikan Negara Saudi Pertama dengan ibukota Dir’iyyah, yang makmur di bawah bimbingan Syaikh Muhammad bin Abdul tahun 1788, Negara Saudi Pertama berhasil memerintah seluruh wilayah yang dikenal sebagai Najd. Pada awal abad ke-19, kekuasaannya terus meluas ke sebagian besar Jazirah Arab, termasuk Mekah dan dan keberhasilan Al-Saud membangkitkan kecurigaan Kekaisaran Ottoman, penguasa dominan di Timur Tengah dan Afrika Utara pada saat itu. Pada tahun 1818, Kekaisaran Ottoman mengirim pasukan ekspedisi besar yang dipersenjatai dengan artileri modern ke wilayah barat Arab. Tentara Ottoman mengepung Kota Dir’iyyah. Pasukan Ottoman meratakan kota dengan senjatanya dan membuatnya tidak dapat dihuni secara permanen dengan menghancurkan sumur dan mencabut semua pohon Saudi KeduaPada 1824, keluarga Al-Saud berhasil mendapatkan kembali kendali politik di Jazirah Arab tengah. Penerus Kelurga Al-Saud, Turki bin Abdullah Al-Saud memindahkan ibukotanya ke Riyadh, sekitar 20 mil selatan Dir’iyyah, dan mendirikan Negara Saudi Kedua. Selama 11 tahun pemerintahannya, Turki Al-Saudi berhasil merebut kembali sebagian besar tanah yang hilang sejak penyerangan Utsmani. Ketika ia memperluas kekuasaannya, ia mengambil langkah-langkah untuk memastikan bahwa rakyatnya menikmati hak-hak, dan ia memperhatikan kesejahteraan bawah Turki dan putranya, Faisal, Negara Saudi Kedua menikmati masa damai dan kemakmuran, dan perdagangan dan pertanian berkembang. Ketenangan itu hancur kembali pada tahun 1865 saat Kekaisaran Ottoman yang baru memperluas wilayah ke Jazirah Arab. Tentara Ottoman merebut bagian-bagian dari Negara Saudi, yang pada waktu itu diperintah oleh putra Faisal, Abdulrahman. Dengan dukungan Ottoman, keluarga Hail Al-Rashid melakukan upaya bersama untuk menggulingkan Negara Saudi dengan pasukan yang jauh lebih besar dan lebih lengkap, Abdulrahman bin Faisal Al-Saud terpaksa meninggalkan perjuangannya pada tahun 1891. Dia mencari perlindungan dengan suku-suku Badui di padang pasir luas di Arabia timur yang dikenal sebagai Rub Al-Khali. Dari sana, Abdulrahman dan keluarganya melakukan perjalanan ke Kuwait, di mana mereka tinggal sampai tahun 1902 dan membawa putranya yang masih muda, Abdulaziz, yang kemudian mendirikan Kerajaan Arab Saudi Modern Arab Saudi Fase KetigaAbdulaziz muda bertekad untuk mendapatkan kembali warisannya yang direbut oleh Keluarga Hail Al-Rashid dan Ottoman, yang telah mengambil alih Riyadh dan mendirikan Kegubernuran Ottoman di sana. Pada tahun 1902, Abdulaziz muda, yang hanya ditemani 40 pengikutnya mengadakan pawai malam yang berani menuju Riyadh untuk merebut kembali jantung kota, yang dikenal sebagai Benteng Masmak. Peristiwa legendaris itu menandai awal pembentukan Negara Saudi berhasil kembali mendapatkan Kota Riyadh, Abdulaziz kemudian berhasil merebut kembali semua Hijaz, termasuk Mekah dan Madinah, pada tahun 1924 hingga 1925. Dengan pengaruhnya, Abdulaziz berhasil menyatukan suku-suku yang bertikai menjadi satu tanggal 23 September 1932, negara itu diresmikan menjadi Kerajaan Saudi Arabia dengan Islam sebagai agama resmi negara, Bahasa Arab sebagai bahasa nasional dan Al-Quran dan Al-Hadits sebagai Raja Abdulaziz Al-Saud mendirikan Kerajaan Arab Saudi modern Saudi Fase ke-III pada tahun 1932, transformasi Jazirah Arab menjadi sangat mencengangkan. Dalam beberapa dekade singkat, Jazirah Arab telah berubah dari gurun pasir menjadi negara modern yang canggih dan pemain utama di panggung Keluarga Kerajaan Arab SaudiBeberapa hari terakhir ini, beredar kabar yang mengatakan bahwa Keluarga Al Saud berasal dari keturunan Yahudi. Dari kabar tersebut, Raja Arab Saudi berasal dari seorang Yahudi bernama Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe. Benarkah demikian?Berdasarkan manuskrip silsilah Keluarga Al Saud, yang saat ini tersimpan baik di Daarah Malik Abdulaziz, Riyadh, sebuah Yayasan Penelitian dan Pelestarian sejarah dan budaya Arab Saudi dapat ditelusuri asal usul dan silsilah Keluarga Al Manuskrip tersebut dituliskan Saud bin Abdulaziz bin Muhammad bin Saud bin Muhammad bin Muqrin bin Markah bin Ibrahim bin Musa bin Rabia bin Manea bin Rabiaa Al-Rubai Al-Waazid Al-Yazidi dari Al-Waazid Bani catatan tersebut, Keluarga Al Saud berasal dari seseorang bernama Mani’ bin Rabi’a al‐Muraydi. Mani’ bin Rabi’ah al-Muraydi adalah tokoh leluhur tertua dari Keluarga Al-Sa’ud yang berasal dari Kafilah Bani Hanifah adalah salah satu suku Arab lama yang terkenal. Nama kafilah ini berasal dari Hanifah bin Lajim bin Sha’ab bin Ali bin Bakr bin Wa’il bin Qasith bin Hinb bin Afsha bin Du’ami bin Judailah bin Asad bin Rabi’ah bin Nazzar bin Ma’ad bin redaksi Dari data silsilah ini dapat dilihat bahwa Keluarga Al Saud bukanlah keturunan Yahudi. Jika Adnan yang dimaksud adalah salah seorang nenek moyang Bangsa Arab yang merupakan keturunan Nabi Ismail, maka silsilah Raja Arab Saudi tersambung hingga kepada Nabi Ismail bin Ibrahim Alaihimassalam. Wallahu a’ Saudi Royal Family News and Information, Samin 2015. Of Sand or Soil Genealogy and Tribal Belonging in Saudi ArabiaJames Wynbrandt 2010. A Brief History of Saudi ArabiaRedaktur Hermanto Deli
- Dari Silaturahmi Akbar Ana' Eppona Mappajung'e WATAMPONE,-Sejumlah tokoh, baik yang berkiprah di dunia politik, militer, birokrasi, hingga pengusaha di negeri ini, baik di tingkat nasional, regional, dan lokal, terdapat sejumlah keturunan Raja Bone. Hal itu terungkap, saat Komunitas Seni dan Budaya di Kabupaten Bone, Tunreng Tellue, menggelar silaturahmi akbar Ana' Eppona Mappajung'e yang digelar di Bola Soba Saoraja Petta Ponggawae, Minggu, 19 Januari, lalu, yang menghadirkan akademisi, budayawan, serta pemerhati budaya. Salah satunya, tokoh yang masih keturunan Raja Bone, yaitu Mendiang mantan Panglima ABRI, Jendral Purn A M Jusuf. Semasa hidupnya, Andi M Jusuf, pernah menjabat sebagai Panglima ABRI pada periode 1978 - 1983. Ditelusuri berdasarkan silsilah Raja Bone, dari garis ayahnya, mendiang yang semasa hidupnya merupakan salah satu tokoh berpengaruh dalam sejarah kemiliteran Indonesia ini memiliki garis keturunan dari Raja Bone ke-24, La Mappatunru To Appasessu. Selain itu, terdapat pula mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Andi Alifian Mallarangeng, masih memiliki garis keturunan bangsawan Bone. Salah seorang pemerhati budaya di Kabupaten Bone, H Andi M Yusman Batara Aji, mengatakan, berdasarkan silsilah Raja Bone, terdapat sejumlah tokoh di negeri ini yang berkiprah di sejumlah bidang dan memiliki garis keturunan Raja ke- 23, La Tenri Tappu To Appaliweng. Dia menjelaskan, dari perkawinan La Tenri Tappu To Appaliweng dengan We Pada Uleng Arung Timurung itulah, Raja ke-23 ini memiliki 13 anak, yaitu Batara Tungke Arung Timurung,La Mappatunru To Appasessu yang kemudian menggantikan tahta ayahnya menjadi Raja Bone ke-24, We Manneng Arung Data yang merupakan Raja Bone ke-25, serta La Pawawoi Arung Sumaling. Selain itu, kata dia, Raja Bone ke-26, La Mappaseling Arung Pannyili, La Tenri Sukki Arung Kajuara, We Kalaru Arung Pallengoreng, Mamuncaragi Arung Malaka, serta La Tenri Bali Arung Ta', La Mappaewa Arung Lompu, dan La Paremma Rukka Arung Karella, La Temmu Page Arung Paroto Petta Ponggawa Bone, dan La Patuppu Batu Arung Tonra. "Berdasarkan lontarak Bilang La Tenri Tappu, menyebutkan anak pertama La Tenri Tappu To Appaliweng dengan We Pada Uleng Arung Timurung, yaitu Batara Tungke Arung Timurung,"ujarnya. Dia menjelaskan, anak pasangan Raja Bone ke-23, La Tenri Tappu To Appaliweng dengan We Pada Uleng Arung Timurung melahirkan La Mappatunru To Appasessu yang juga merupakan Raja Bone ke-24,La Mappatunru To Appasessu. Dari garis keturunan La Mappatunru To Appasessu itu, terdapat sejumlah tokoh di negeri ini, diantaranya mantan Panglima ABRI, Jendral Purn A M Jusuf, mantan Gubernur Sulsel, Brigjen TNI Purn Andi Oddang, mantan Sekretaris Provinsi Sulsel, Andi Muallim, dan mantan Bupati Bone, Andi Baso Amir, mantan Wakil Ketua DPRD Bone sekaligus budayawan di daerah ini, Andi Palloge Petta Nabba. Terkait garis keturunan dari MendiangJendral Purn A M Jusuf itu. Andi M Yusman Batara Aji ini menjelaskan, diawali dari garis keturunan La Mappatunru To Appasessu, kemudian garis keturunan itu menurun ke La Pabbenteng Daeng Lawa. Selanjutnya, dari perkawinan La Pabbenteng Daeng Palawa dengan I Nyonyo Arung Gona melahirkan Upe Arung Tarasu yang kemudian memperistri Nini Petta Sali, dari perkawinan itulah, lahirlah Andi Tappu Amir Arung Kajuara yang kemudian memperistri Petta Bunga . Andi Tappu Amir Kajuara dan Petta Bunga inilah kedua orangtua dari mendiang Andi M Jusuf. Sedangkan, dari perkawinan Andi Tappu Amir Arung Kajuara dengan Petta Sanna, lahirlah mantan Bupati Bone periode 1967 - 1969, Andi Baso Amir. "Jadi antara mendiang Andi M Jusuf dan Andi Baso Amir masih anak dari Andi Tappu Amir Arung Kajuara, tapi beda ibu,"jelas Andi M Yusman. Selain itu, Asisten I Pemprov Sulsel Andi Herry Iskandar, Andi Herry Iskandandar, merupakan keponakan dari Andi M Jusuf yang merupakan anak dari saudara Andi M Jusuf, yaitu Andi Iskandar. Tokoh lainnya, yaitu mantan Gubernur Sulsel, Brigjen TNI Purn Andi Oddang, masih merupakan keturunan dari La Mappatunru To Appasessu. Keturunan La Mappatunru To Appasessu lainnya, mantan Walikota Administrasi Watampone dan Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat BPM Provinsi Sulsel, Andi Mangunsidi Massarappi, dan mantan Bupati Barru, Andi M Mansyur Sultan, mantan Wakil Bupati Bone, Andi Said Pabokori, dan mantan Kepala Disperindag Kabupaten Bone, Andi Sultan Pawi. Selain itu pula, masih garis keturunan Raja Bone ke-24, La Mappatunru To Appasessu, yaitu Ketua DPC Demokrat Kabupaten Gowa yang juga mantan calon Bupati Gowa, Andi Maddusila Andi Idjo. Pasalnya, kata dia, ayah Andi Maddusila, yaitu Raja Gowa ke-36, Andi Idjo Karaeng Lalolang merupakan anak dari Raja Gowa ke-35, I Mangi-Mangi Daeng Tutu Karaeng Bontonompo dari perkawinan dengan I Kunjung Daeng Nginga Karaeng Tana-tana yang merupakan anak dari I Bungasa. Keturunan Raja Bone ke-29, Singkeru Rukka ini menambahkan, I Bungasa sendiri merupakan cucu dari Raja Bone ke 24, La Mappatunru Appasessu. Tak hanya itu, ibu dari Raja Gowa ke-35, I Mangi-Mangi Daeng Tutu Karaeng Bontonompo, yaitu Bau Tenri Pada Arung Berru tak lain adalah saudara dari Raja Bone ke-29, Singkeru Rukka. Sedangkan keturunan lain dari La Tenri Tappu To Appaliweng, melalui garis keturunan Lapawawoi Arung Sumaling, juga terdapat salah satu pengusaha sukses, Andi Amran Sulaiman, yang juga Direktur Utama PT Tiran Group Indonesia. Garis keturunan anak La Tenri Tappu To Appaliweng, yaitu La Mappaewa Arung Lompu, diantaranya tokoh perjuangan Sulawesi Selatan yang juga mantan Gubernur Sulawesi, Andi Pangerang Pettarani, yang tak lain merupakan anak Raja Bone ke 32, Andi Mappanyukki. "Andi pangerang Pettarani merupakan keturunan bangsawan Kerajaan Gowa dan Bone,"ujar keturunan Raja Bone ke-29, Singkeru Rukka ini. Dari garis anak La Tenri Tappu To Appaliweng lainnya, yaitu La Temmu Page Arung Paroto terdapat garis keturunan mantan Bupati Bone, Andi Idris Galigo dan Bupati Bone saat ini, Andi Fahsar M Padjalangi."Keduanya memang masih memiliki garis keturunan yang sama,"kata Andi M Yusman. Selain itu pula, terdapat mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Andi Alifian Mallarangeng itu dari garis ayahnya, Andi Mallarangeng. Kakek Alifian, Andi Kenkeng Petta Tappu Arung Cina, merupakan garis turunan La Temmu Page Arung Paroto Petta Ponggawa Bone. Dia menjelaskan, masih banyak keturunan Raja Bone lainnya, hanya saja sudah tersebar di sejumlah wilayah di nusantara ini. Bahkan ada beberapa keturunan bangsawan dan raja di Kerajaan Bone yang bermukim pula di sejumlah wilayah di Malaysia. Menanggapi keturunan bangsawan yang terdapat sejumlah tokoh dan berkecimpung di berbagai bidang di negeri ini, budayawan di Kabupaten Bone, H A M Youshand Tenri Tappu, mengakui terdapat sejumlah tokoh di negeri ini yang merupakan keturunan bangsawan dan sejumlah raja di Kerajaan Bone, salah satunya Jenderal Andi M Jusuf. Selain itu, kata dia, banyak pula pemimpin di suatu daerah, contohnya bupati yang masih keturunan bangsawan maupun raja di Kerajaan Bone, karena tidak dapat dipungkiri telah terjadi pereratan hubungan kerajaan melalui sistem perkawinan. Sehingga keturunan atau bangsawan Kerajaan Bone itulah yang menetap di sejumlah wilayah, yang kemudian keturunannya menjadi pemimpin atau kepala daerah di kemudian hari. "Untuk memperat persaudaraan dan kekerabatan, Raja Bone saat itu memperistri sejumlah keturunan raja atau keturunan raja yang menikah dengan raja lainnya. Sistem perkawinan itulah sehingga terjadi kekerabatan antara Kerajaan Bone dengan kerajaan lainnya di Sulsel,"tandasnya. Guru besar Unhas, Prof Dr Mahmud Tang MA, menilai pentingnya membangun jaringan kekerabatan dalam bingkai kesatuan dan persatuan di era demokrasi. Di era demokrasi saat ini, pandangan orang bisa berbeda, akan tetapi jika masuk dalam lingkup budaya, hubungan kekerabatan itu haruslah tetap terjaga. Sementara itu, Dr Suryadi Mappangara M Hum, lebih jauh membahas peranan kerajaan Bone masa lampu dan bagaimana kerajaan itu membangun jaringan dengan kerajaan lainnya.
Kerajaan Majapahit, Kesultanan Demak, Pajang, Mataram Islam, hingga Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran, Kadipaten Pakualaman dan Kesepuhan Cirebon semua masih satu garis trah keturunan dari Trah Prabu Brawijaya V Majapahit yang terakhir. Didalam konsep Raja-Raja Jawa Mataram memiliki konsep bahwa pemimpin adalah "Sabdo Pandito Ratu". Artinya Yang dikatakan Pemimpin adalah yang ucapannya komitmen dan konsisten tidak boleh lemah dan tidak boleh berubah-ubah. Bukanlah ciri-ciri seorang keturunan orang besar turunan raja atau ulama bila sabdanya atau ucapannya tidak mencerminkan raja tidak konsisten. Hari ini bicara tempe besok petai mencla-mencle, maka ini bukanlah figur seorang pandito ratu atau pemimpin. Karena masyarakat Jawa berpedoman pada sebuah filosofi “Sabda brahmana raja tan kena wola-wali pindha we kresna tumetes ing dalancang seta” yang artinya adalah, "Pernyataan seorang pemimpin atau Ulama dan Raja hendaknya tidak mencla-mencle ibarat tinta hitam yang menetes di atas kertas putih". Sebenarnya dari Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati sampai SBY bila ditelusuri dari biografi dan silsilah bisa dikatakan semua masih saudara karena merupakan keturunan dari raja-raja Jawa trah Mataram. Soekarno dan Soeharto ibarat air dan api. Tapi siapa sangka, keduanya punya leluhur yang sama, yaitu dua-duanya berasal dari trah Mataram yaitu Sultan Hamengkubuwana II. Presiden Soekarno Beliau adalah Sang proklamator sekaligus Presiden RI pertama. Percaya atau tidak Soekarno disebut-sebut masih keturunan salah satu putro dalem Pakubuwono Kasunanan Surakarta? Baik saya open sedikit disini. Sebenarnya Bung Karno adalah salah satu Putra Dalem Paku Buwono X. Artinya Bung Karno adalah termasuk anak Raja dari Kasunanan Surakarta. Berarti beliau masih saudara satu bapak dengan kakek saya yang lain ibu kebetulan kakek saya adalah putra dalem Paku Buwono X. Karena Bung Karno adalah salah satu dari sekian putra raja PB X yang didapat dari salah satu para selirnya PB X. Salah satu Selir yang tidak dinikahi secara resmi. Bung Karno adalah anak hasil dari hubungan antara Sinuwun PB X dengan selir atau wanita luar yaitu wanita gadis Bali. Dimana waktu itu Sinuwun PB X sebagai seorang raja biasa mengadakan kunjungan-kunjungan kerja kerajaan ke berbagai wilayah. Saat itu PB X sedang kunjungan ke daerah Bali. Lalu di Bali Sinuwun PB X bertemu dan berkenalan dekat dengan seorang gadis cantik Bali bernama Ida Ayu Rai hasil dari hubungan itu kemudian Ida Ayu hamil. Kemudian Sinuwun PB X kembali ke Surakarta dan berjanji akan tetap mengurusi dan menghidupi Ida Ayu sampai melahirkan. Karena Ida Ayu tetap di Bali tidak mau diajak ke keraton Surakarta maka Sinuwun PB X mengutus dan memberikan tugas seorang Abdi Dalemnya ke Bali bernama Pak Sukemi untuk mengawasi, mengawal dan mengurusi kebutuhan hidupnya Ida Ayu hingga melahirkan. Setelah Ida Ayu melahirkan di Surabaya seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama oleh pak Sukemi Koesno Sosrodihardjo lahir di Surabaya 6 Juni 1901 atau Soekarno. Kenapa Koeno? Karena Koesno adalah nama kecil dari Sinuwun PB X yang bernama Malikul Kusno. Ternyata setelah itu Sinuwun PB X memerintahkan agar pak Sukemi abdi dalemnya untuk menikahi Ida Ayu. Akhirnya masa kecil Soekarno hidup diluar keraton bersama orang tuanya Ibu Ida Ayu dan Bapak Sukemi di Bali hingga dewasa. Dari jalur ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai, Sukarno mendapatkan trah bangsawan Bali. Gde Pasek Suardika dan Izarman dalam buku Bung Karno, Saya Berdarah Bali 1998 menyebutkan. Kemudian Soekarno mewarisi sebilah keris dari kakeknya ayahanda Ida Ayu Nyoman Rai. Keris itu diwariskan turun-temurun di keluarga Bale Agung yang masih keturunan Raja Buleleng, termasuk pernah digunakan kakek Sukarno saat menghadapi penjajah Belanda. Walaupun Bung Karno tidak melegitimasi dan mengakui dirinya sebagai keturunan bangsawan Mataram atau putra raja. Tapi Soekarno nama gelarnya ikut-ikutan seperti gelar bapaknya Sinuwun PB X. Gelar Paku Buwono X adalah gelar yang terpanjang sepanjang sejarah raja Mataram. Gelar PB X adalah "Ingkang Sinuwun Sampeyan Ingkang Dalem Ingkang Wicaksono Senopati Khalifatullah Ingngalogo Abdurrahman Sayidin Panotogomo Pakubuwono Ingkang Kaping Sedoso Pakubuwono ke X". Gelar Raja Paku Buwono X kemudian ditiru oleh Bung Karno yaitu beliau menamakan dirinya dengan gelar sebagai, "Pemimpin Besar Revolusi, Paduka Yang Mulia, Penyambung Lidah Rakyat, Panglima Tertinggi Angkatan Perang, Presiden Seumur Hidup, Ir. H. Soekarno." Ada wasiat Sinuwun PB X yang pesan itu disampaikan kepada orang yang dipercaya dari putra kesayangannya yaitu GPH. Soerio Hamidjoyo kakek saya. Bunyi pesan Paku Buwono X tersebut adalah "Aku mendapatkan dawuh dari Allah dan leluhur kelak ada anak keturunanku yang bakal menjadi raja atau pemimpin negeri nusantara ini." Presiden Soeharto Pak Harto adalah keturunan dari Sultan HB II, sama seperti Soekarno. Namun keberadaan dan legitimasi itu tidak diakui oleh Soeharto sendiri, beliau murka dengan pemberitaan di media pada waktu itu di majalah POP pada tahun 1974 tersebut lantas memberangus majalah tersebut. Masa kecil Pak Harto yang berasal dari Desa Kemusuk, sebelah barat Kota Yogyakarta bersama orang tuanya Probosutejo. Sebenarnya Soeharto adalah termasuk salah satu anak dari bangsawan Kesultanan Jogja yaitu anak dari seorang Gusti Pangeran Sultan Jogja siapa namanya, dengan seorang wanita dari luar. Kemudian Pangeran Jogja itu memiliki sahabat seorang pengusaha China yang bernama Liem Siu Liong. Meminta agar nanti setelah melahirkan menikahi wanita tersebut ibunda Soeharto yang umurnya jauh lebih tua daripada seorang cina ini yang bernama Liem Siu Liong. Kemudian pengusaha Cina tersebut yang masih muda belia menikahi wanita tersebut. Setelah itu Soeharto kecil di minta anak atau diangkat anak di sebuah desa Kemusuk di Jogja oleh bapaknya Probosutejo yang waktu itu bapaknya adalah seorang petani besar dan terkenal di desa Kemusuk. Sehingga yang terkenal Soeharto adalah anaknya seorang petani. Tapi darah biru yang terpancar di wajahnya tidak bisa disembunyikan bahwa dirinya adalah seorang keturunan dari trah kebangsawanan kesultanan Jogja. Presiden Habibie Habibie memang bukan lahir di Jawa, melainkan di Parepare, Sulawesi Selatan. Namun, ibundanya Habibie adalah bernama RA. Toeti Marini Poespowardojo, beliau adalah perempuan Jawa kelahiran Yogyakarta. Menurut Nurinwa Ki S. Hendrowinoto dalam Buku "Ibu Indonesia dalam Kenangan" 2004, ibunda Habibie berasal dari keluarga priyayi atau ningrat Jawa karena itu ibunda beliau bergelar RA atau Raden Ayu. Toeti adalah cucu dari Raden Ngabehi Tjitrowardojo dari trah Mataram, seorang dokter sekaligus bangsawan lokal terkemuka dari Purworejo, Jawa Tengah, tidak seberapa jauh dari Yogyakarta dan pernah menjadi wilayah kekuasaan Mataram. Presiden Gusdur p>Gusdur adalah keturunan dari Sunan Giri dan keluarga Basyaiban, Joko Tingkir yang dimaksud Gus Dur tidak lain adalah Sultan Hadiwijaya, pendiri Kerajaan Pajang yang memerintah pada 1549-1582. memiliki pertalian dengan Sultan Pajang, Hadiwijaya atau dikenal sebagai Jaka Tingkir. Ayah Joko Tingkir, Ki Ageng Pengging, adalah murid Syekh Siti Jenar, wali yang dianggap sesat oleh Walisongo, barisan ulama pro-Kesultanan Demak. Namun, Joko Tingkir juga merupakan murid Sunan Kalijaga dan dipersaudarakan dengan Ki Juru Martani yang kelak menjadi mahapatih Kesultanan Mataram Islam. Presiden Megawati Jika Soekarno masih keturunan trah Mataram Sultan HB II dan Pakubuwono X maka garis darah serupa juga berlaku untuk putrinya, Megawati Soekarnoputri, yang menjadi Presiden RI ke-5. Presiden SBY Susilo Bambang Yudhoyono masih memiliki keturunan dan punya pertalian darah dengan Raden Wijaya, raja pertama sekaligus pendiri Kerajaan Majapahit. Tak hanya itu, SBY juga masih satu garis keluarga dengan Sri Sultan Sri Sultan Hamengkubuwana III. Walaupun Soekarno dan Soeharto tidak pernah mengklaim dirinya sebagai kerurunan bangsawan trah Mataram. Tapi lucunya Bung Karno sebagai presiden RI gelarnya meniru-niru gelar seorang raja yaitu Paku Buwono X atau ayahnya sendiri. Begitupun Soeharto walaupun beliau tidak mengakui sebagai keturunan bangsawan Mataram Jogja, tetapi beliau membangun pesarean "makam" keluarga dengan diberi nama "Astana Giri Bangun" di Karanganyar Jawa tengah, diatas gunung persis menyerupai miniatur makam para raja-raja Mataram di Imogiri. Ternyata semua presiden RI kita semuanya masih keturunan dari darah biru leluhur mereka keturunan raja dari trah Brawijaya Majapahit. Memang ini sudah suratan takdir yang digariskan biasanya raja ya keturunan raja pula, pemimpin keturunan pemimpin pula, ulama keturunan ulama pula dan nabi keturunan nabi pula. Nasab pasti menurunkan nasabnya yang sama pula. Tapi biasanya alam semesta akan terjadi gejolak bila seorang yang tidak ada keturunan nasab raja atau ulama atau pemimpin kemudian menjadi pemimpin maka akan terjadi ketimpangan di negeri tersebut. Maaf saja bila ada satu presiden yang tidak termasuk didalam penulisan disini. Karena memang kenyataanya secara real esensial tidak ada memiliki jalur dan garis darah trah raja atau ulama dari leluhurnya. Dulu pada tahun 2014 pernah di telusuri rekam jejak sejarah biografi data profil dan silsilahnya yang real asli tentang pribadi orang ini oleh pihak TNI AD. Ternyata kesimpulannya data profil pribadi dan biografi yang dilapangan tidak cocok dengan data profil biografi yang dipublikasikan di media tidak valid. Jadi penulis tidak berani untuk memasukkan beliau kedalam satu "Pemimpin Yang Masih Ada Garis Trah Majapahit" ini. Klaim gelar atau Trah bukan menunjukkan sikap feodalisme tapi untuk menunjukkan seorang itu masih peduli dan menghormati silsilah keturunan leluhurnya. Dalam rangka untuk mengetahui dan menyelusuri jalur nasabnya leluhur orang tersebut. Kadang Gelar nasab masih diperlukan dan masih berlaku dalam dunia kekuasaan dan perpolitikan saat ini walaupun tidak berpengaruh besar. Biasanya gelar digunakan untuk melegitimasi kekuasaan supaya pendukungnya semakin tambah mantap dan yakin bahwa pilihannya adalah bukan orang sembarangan tapi masih ada garis darah keturunan orang besar seperti keturunan Nabi, ulama atau raja. Kanjeng Senopati / KRMH. Tommy Wibowo Hamidjoyo. SE Analisis Spritualis dan Pemerhati Budaya