Lebihdalam jika kita renungkan makna ayat fastabiquu kita akan menemukan makna bahwa di mana kita memang harus menciptakan lingkungan. Sebab dalam kata tersebut terkandung makna "berlombalah". Dalam perlombaan tidak mungkin sendirian, melainkan harus lebih dari satu atau lebih. Maka jika semua orang berlomba dalam kebaikan, otomatis akan Kemudianbeliau mengatakan, والقمر. "Demikian pula (diantara tanda-tanda kekuasaan Allah adalah) bulan.". Bagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan bulan dan dia berbeda dengan matahari. Karena bulan berupa nur (berupa cahaya), berbeda dengan matahari yang merupakan sinar yang membakar. Adapun bulan maka berupa nur. Denganmengingat Muraqabatullah dan Ihsanullah, maka sudah selayaknya kita ber-Ihsanun Niyah (berniat yang baik). Karena niat yang baik akan mengarahkan kita kepada: 1. Ikhlasun Niyat (Niat yang Ikhlas) 2. Itqonul 'Amal (Amal yang rapi) 3. Jaudatul Adaa' (Penyelesalan yang baik) Jika seseorang beramal dan memenuhi kriteria di atas, maka ia Semakinsering kamu berbuat baik, maka kebahagiaan dan ketenangan hidup akan senantiasa hadir dalam kehidupanmu. 3. Kamu akan terbebas dari pikiran-pikiran negatif Halaqah22: Landasan Pertama Ma'rifatullah Bagian 10 Dalil Ibadah Isti'adzah. ودليل الاستعاذة قوله تعالى: {قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ}، و {قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ} Yang dimaksud dengan Isti'adzah adalah memohon perlindungan. PJA2.4.1. Kelebihan Dan Kekurangan Perancah Baja Konvensional Tabel 2.1. Kelebihan dan Kekurangan Perancah Baja Konvensional No 1 Pekerjaan Slab Balok Kelebihan dan a. Pemakaian karena lebih lebih Kekurangan cepat, terbiasa dalam pemasangannya b. Unit variasi materialnya a. Pada gedung bertingkat tinggi, pemakaian vertikal standar kurang efisien, KebaikanTuhan membawa pembaharuan dalam kehidupan untuk memilih hidup dalam ketaatan. Baca juga: Renungan Harian Kristen - Tuhan yang Mahabesar. Jangan biarkan kedagingan menggoda untuk berbuat tidak baik, atau membuat jemu untuk berbuat baik. Tanggung jawab beriman sebagai orang yang telah diselamatkan adalah terus hidup dalam kebaikan. 7D33. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Seringkali kita mendenga kata "baik", "orang baik", "berbuat baik", atau "kebaikan". Apa makna, arti, definisi, maksud, atau pengertian kebaikan yang sebenarnya dalam Islam?apabila dikutip Secara bahasa Indonesia, menurut KBBI, baik artinya elok; patut; teratur apik, rapi, tidak ada celanya, dsb mujur; beruntung; berguna; manjur; sembuh; pulih; selamat tidak kurang suatu apa. Kebaikan artinya sifat baik; perbuatan baik, kegunaan; dan sifat manusia yang dianggap baik menurut sistem norma dan pandangan umum yang kebaikan menurut Islam? Rasulullah Saw sebuah haditnya menegaskan "Kebaikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah apa saja yang meragukan jiwamu dan kamu tidak suka memperlihatkannya pada orang lain." HR. Muslim"Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan adalah apa saja yang menenangkan hati dan jiwamu. Sedangkan dosa adalah apa yang menyebabkan hati bimbang dan cemas meski banyak orang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kebaikan." HR. Ahmad, Thabrani, dan Al Baihaqi.Kebaikan menurut Al-Quran Dalam salah satu ayat Al-Quran, kebaikan disebut "Al-Biru". Ulama mengartikannya sebagai "kebaikan yang banyak". Allah SWT merinci apa saja yang disebut kebaikan dalam firman-Nya"Kebaikan itu bukanlah dengan menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, Hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir yang memerlukan pertolongan dan orang-orang yang meminta-minta; memerdekakan hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya; dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa." QS. 2177.Dari ayat di atas, yang dimaksud perbuatan baik atau kebaikan dalam Islam antara lainBeriman. Beriman kepada Allah, Hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan Infak, Dermawan. Memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir yang memerlukan pertolongan dan orang-orang yang meminta-minta; memerdekakan hamba Ibadah. Mendirikan shalat dan menunaikan Janji. Menepati janjinya apabila ia berjanjiSabar. Orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam riwayat Ar-Rabi' dan Qatadah, sebab turun asbabun nuzul ayat ini yaitu ketika umat Yahudi sembahyang menghadap ke arah Barat, sedang umat Nasrani menghadap ke arah Timur. Masing-masing pemeluk agama mengklaim bahwa hanya agama yang dianutnya paling benar dalam berbakti dan berbuat kebajikan. Sedangkan di luar agamanya dianggap salah dalam berbakti dan berbuat kebajikan, sehingga turunlah ayat ini untuk membantah pendapat dan persangkaan mereka. Dalam Al-Quran dan Tafsirnya dari Universitas Islam Indonesia 1991 dijelaskan, ayat ini bukan saja ditujukan kepada umat Yahudi dan Nasrani, tetapi mencakup semua umat yang menganut agama samawi agama yang turun dari langit termasuk umat SWT menjelaskan kepada semua umat manusia, bahwa kebaktian bukanlah sekedar menghadapkan muka kepada suatu arah tertentu baik arah ke Timur atau ke Barat. Tetapi hakikat kebaktian adalah beriman kepada Allah dengan sesungguhnya, iman yang bersemayam di lubuk hati yang dapat menentramkan jiwa, yang dapat menunjukkan kebenaran dan mencegah diri dari segala macam dorongan hawa nafsu dan kejahatan. Beriman pada hari akhirat sebagai tujuan terakhir dari kehidupan dunia yang serba kurang dan fana ini. Beriman kepada malaikat yang di antara tugasnya menjadi perantara dan pembaca wahyu dari Allah kepada para Nabi dan Rasul. Beriman kepada semua kitab-kitab Zabur, Taurat, Injil, dan Al-Quran yang diturunkan Allah. Beriman kepada semua nabi tanpa membedakan antara seorang nabi dengan nabi yang lain. 1 2 Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya Oleh SIGIT INDRIJONOOLEH SIGIT INDRIJONO “Dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” QS al-Qashash [28] 77. Dalam ayat ini, Allah SWT memberikan perintah untuk hal yang juga dilakukan oleh-Nya, hal ini menunjukkan keutamaan berbuat baik. Kita menaati perintah-Nya tersebut dengan berbuat baik. Tidak karena yang lain, melainkan ikhlas karena Allah SWT. Bisa saja seseorang berbuat baik kepada orang lain dengan menjadikannya sebagai utang budi, konsekuensinya mengharap pengakuan dan balasan. Kita tidak perlu menghitung-hitung kebaikan kepada orang lain, akan lebih baik bisa melupakannya. Hendaknya kita terus berbuat baik kepada orang lain dan tidak merisaukan meskipun orang tersebut tidak peduli. Keinginan agar banyak orang mengetahui dan mendengar kebaikan tersebut juga harus dihindari, merupakan riya karena mengesampingkan ikhlas dalam beramal. Berbuat baik merupakan akhlak mulia yang bisa diwujudkan pada berbagai hal, seperti memberikan pertolongan, menasihati untuk kebaikan, berbagi ilmu, atau memperlakukan dengan baik, terutama untuk orang-orang terdekat, yaitu orang tua, suami, istri, anak, dan kerabat. Selanjutnya berbuat baik untuk lingkup yang lebih luas, seperti dengan tetangga, di tempat kerja, dan dengan semua orang yang kita berinteraksi dengan mereka dalam kehidupan sehari-hari. "Dan berbuat baiklah. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik." QS al-Baqarah [2] 195. "Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik." QS al-A'raf [7] 56. “Dan barang siapa mengerjakan kebaikan akan kami tambahkan kebaikan baginya.” QS asy-Syura [42] 23. Ayat-ayat di atas menerangkan janji Allah SWT bagi orang-orang yang berbuat baik, yaitu dicintai-Nya, memperoleh rahmat-Nya dan tambahan kebaikan. Sehingga kita antusias untuk berbuat baik dengan ikhlas dan mengharap rida-Nya secara istiqamah. Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa menolong saudaranya yang sedang dalam kebutuhan, maka Allah akan menolongnya dalam kebutuhannya." HR Bukhari dan Muslim. Beliau SAW juga bersabda, "Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun, walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan." HR Abu Dawud dan Tirmidzi. Hadis di atas mendorong kita untuk selalu berusaha menolong orang lain dan juga untuk berbuat baik kepada orang lain tanpa meremehkan sedikit pun untuk hal-hal yang mudah dan kecil, seperti memperlihatkan wajah tersenyum. “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik surga dan tambahannya kenikmatan melihat Allah. "Dan wajah mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak pula dalam kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” QS Yunus [10] 26. Ayat ini menerangkan tentang balasan pahala bagi orang-orang yang berbuat baik, pahala terbaik berupa surga dan tambahannya, yaitu kenikmatan melihat Allah SWT. Wallahu a'lam. 👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, حفظه لله تعالى 📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-Tsalasah ============================ بسم اللّه الرحمن الرحيم السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه Halaqah yang ke-25 dari Silsilah Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al Ushūlu AtsTsalātsah wa Adillatuhā 3 Landasan utama dan dalīl-dalīlnya yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi rahimahullāh. • MENGENAL ALLĀH SUBHĀNAHU WA TA’ĀLA Beliau mengatakan ودليل النّذر قوله تعالى {یُوفُونَ بِٱلنَّذۡرِ وَیَخَافُونَ یَوۡمࣰا كَانَ شَرُّهُۥ مُسۡتَطِیرࣰا} • Dalīl Nadzar النّذر Dalīl bahwasanya nadzar adalah termasuk ibadah adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla یُوفُونَ بِٱلنَّذۡرِ وَیَخَافُونَ یَوۡمࣰا كَانَ شَرُّهُۥ مُسۡتَطِیرࣰا “Mereka menyempurnakan nadzarnya dan takut pada sebuah hari dimana شرّه kejelekan pada hari tersebut menyebar” QS. Al-Insān7 Allāh Subhānahu wa Ta’āla memuji didalam ayat ini, orang-orang beriman yang mereka menyempurnakan nadzarnya. Mereka menyempurnakan nadzar dan takut apabila tidak menyempurnakan nadzar akan ditimpa kejelekan dihari kiamat. Menunjukkan bahwasanya menyempurnakan nadzar adalah perkara yang dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, karena di dalam ayat ini Allāh Subhānahu wa Ta’āla memuji orang-orang yang menunaikan nadzarnya maksudnya nadzar untuk berbuat taat. Seseorang bernadzar untuk melakukan umrah melakukan shadaqāh misalnya, √ Menyempurnakan nadzar adalah ketaatan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. √ Dicintai dan di ridhāi oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. √ Wajib seseorang untuk menyempurnakan nadzar. مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ “Barangsiapa menadzar untuk mentaati Allāh, maka hendaklah dia mentaati Allāh Subhānahu wa Ta’āla” Hadīts shahīh riwayat Al Bukhāri nomor 6696 Dan para ulamā menyebutkan bahwasanya nadzar atau memulai nadzar hukumnya adalah makruh, dan apabila seseorang sudah terlanjur bernadzar, maka dia wajib untuk menunaikan nadzarnya tersebut. ⇛ Memulai nadzar adalah makruh dibenci di dalam syar’iat Berdasarkan hadīts Nabi shallallāhu alayhi wa sallam إِنَّهُ لاَ يَأْتِي بِخَيْرٍ وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنَ الْبَخِيلِ “Sesungguhnya nadzar ini tidak mendatangkan kebaikan akan tetapi nadzar ini keluar dari orang yang bakhil.” Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 1639 Kenapa demikian? Karena orang yang bernadzar misalnya mengatakan, “Yā Allāh, seandainya aku lulus ujian, maka aku akan berpuasa tiga hari atau aku akan berpuasa senin kamis bulan depan.” ⇛ Artinya apabila dia lulus ujian, maka dia akan berpuasa tetapi kalau dia tidak lulus ujian maka dia tidak berpuasa. Dia tidak melakukan ketaatan tersebut kecuali apabila hajatnya dipenuhi oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan ini adalah orang yang bakhil didalam ibadahnya. Dan nasehat kita, jangan sampai kita bermudah-mudah untuk bernadzar, karena belum tentu apabila hajat kita terpenuhi, saat itu kita mampu untuk melakukan nadzar tersebut. Terkadang seseorang sakit, terkadang dia memiliki kesibukan atau disana ada keadaan kondisi yang menjadikan dia tidak bisa menunaikan nadzarnya. Seseorang beribadah kepada Allāh dan berusaha taat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla tanpa harus bernadzar. ⇛Dan bernadzar disarankan tidak boleh di dalam kemaksiatan. Apabila seseorang bernadzar untuk berbuat maksiat, maka dia tidak boleh menunaikan nadzar tersebut. Sebagaimana sabda Nabi shallallāhu alayhi wa sallam وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَ اَللَّهَ فَلَا يَعْصِهِ “Barangsiapa bernadzar untuk memaksiati Allāh, maka janganlah dia berbuat maksiat” Hadīts shahīh riwayat Al Bukhāri nomor 6700 Karena ada sebagian orang bernadzar untuk berbuat maksiat, seandainya terpenuhi hajat tertentu maka dia akan berjudi atau akan berzina, atau akan melakukan ini dan itu. Kalau itu adalah kemaksiatan maka tidak boleh dia menunaikan nadzarnya. Kesimpulannya adalah ⇛Nadzar adalah ibadah, tidak boleh kita serahkan nadzar ini kepada selain Allāh. Bagaimana nadzar kepada selain Allāh? Seseorang bernadzar untuk wali yang sudah meninggal, “Seandainya aku begini dan begitu niscaya aku akan menyembelih untuk wali fulān atau aku akan melakukan ini untuk wali fulān”, maka ini adalah bernadzar untuk selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Dan ini hukumnya adalah syirik syirik besar yang membatalkan amalan, mengeluarkan seseorang dari Islām, dan apabila dia meninggal tanpa bertaubat kepada Allāh, maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak akan mengampuni dosa itu. Dengan demikian kita sudah menyelesaikan poin yang pertama dari apa yang beliau ingin sampaikan yaitu tentang Ma’rifatullāh mengenal Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Itulah yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini, Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menolong kita untuk memahami agama Nya dan menolong kita untuk bisa mengamalkan apa yang kita ilmui. Wallāhu Ta’āla A’lam. وبالله التوفيق و الهداية والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته ________________________